Kamis, 03 Februari 2011

" I N D O N E S I A "

Topik ini mungkin nggak biasa dan lumayan nggak santai. tapi biarkan saja. saya sempat menulis baru2 ini, bahwa ada seorang teman yang berkata bahwa dahulu hanya ada dua negara, negara timur dan negara barat. jahiliah dan yahudi. yang munafik dan yang licik. yang bodoh dan yang pintar.

kemudian yang baru saya sekarang sadari dan tidak saya sempat pertanyakan kepadanya adalah.... negara seperti jepang, india, dan INDONESIA... masuk ke negara mana kalo memang pernyataannya dia bahwa hanya ada negara timur dan negara barat.
dan saya tau orang idealis sepertinya pasti akan mematahkan jawaban dari pertanyaan saya yaitu, sebut saja, suku. budaya. purba. dimana antara negara timur dan negara barat mengadu, disitu di selatan dan utara adalah tempat paling aman untuk berlindung. yang disana hanya mengenal alam dan mengelola kekayaan alam untuk bertahan hidup di kemudian hari. tidak mengenal ajaran apa2 seperti siapa tuhannya dan bahkan mungkin menciptakan Tuhannya sendiri. itu pasti idealisisme yang keluar dari otak teman saya untuk mematahkan pertanyaan saya tadi.

Sudah saya katakan tadi, ini merupakan entri yang sedikit tidak santai. respon tentang 'identitas' dari seorang seperti saya. ada seorang teman dikampus, yang dulu penampilannya terlihat sangat JAWA dengan blankon atau gaya medoknya. saya tidak mempermasalahkan sedikit pun jika penampilannya dikatakan 'aneh'... tapi lucu saja, salah satu kebudayaan atau identitas yang kita bangga-banggakan namanya justru menjadi bahan ejekan.

kronologi yang terjadi di negara suku adalah, 'penyebaran melalui jalur ke jalur'. jika kita melihat ke cina atau jepang, anda melihat New York atau Arab Saudi? jawaban saya, mungkin New York tapi tidak mungkin Arab Saudi. bolehkah jika saya menyamakan negeri ini seperti China?
kita tau tradisi orang China seperti apa, yang mana kita hanya akan tau jika ada perayaannya dalam setahun sekali. kita tau orang jepang identik dengan samurai, tapi kebanyakan pada kenyataannya kita melihat mereka sebagai 'robot' yang menciptakan teknologi.
Indonesia? New York nya bisa di Jakarta... Arab Saudinya bisa dimana-mana...
Indonesia, batik? hanya itu? oke, MUI? FPI? apa lagi? komodo? lantas apa ya yang dikenal oleh orang-orang yang tinggal di luar dari negara ini? hanya batik dan bali mungkin, dan itu berarti mereka hanya mengenal Jawa.


"emang gue pikirin." itu mungkin yang terlintas ketika anda membaca tulisan ini. saya hanya menyinggung soal identitas pada bab ini, dimana SEKALI LAGI sudah saya katakan tadi paling awal bahwa topik ini tidak santai. jadi buat yang merasa orang santai bisa tolong click tanda silang pada tab anda sekarang.


timur yang identik dengan agama, barat yang identik dengan eropa/modernisasi. itu adalah permasalahan utama yang terjadi di negeri yang anda agung-agungkan ketika menonton pertandingan sepak bola kemarin-kemarin.

baiklah, simple saja......

ketika anda melewati sekumpulan orang-orang yang bersorban dengan tasbih di dadanya, atau menengok ke sebuah (entah billboard atau poster namanya) yang mana muka seorang memakai sorban dengan tulisan ala WordArt "Ceramah dari imam bla bla", atau melihat teman anda menggunakan busana jilbab pesantren, yang kerudungnya jatuh sampain ke paha...... yang terlontar adalah.... "garis keras" atau jika anda 'ngeh' orang lain menyebutkannya dengan lebih tidak layak yaitu 'teroris'.
Lantas, jika anda melihat seorang yang berpenampilan apik. mungkin dengan gaya bajunya yang formal sekilas ZARA-ing banget, sepatu boot dengan rambut spike serta dompet kulit yang mungkin ada rantainya, blonde hair dengan tas LV kw sekian dengan kulit badannya yang coklat cantik, sepatu berwarna neon dengan topi yang dipakai miring 'terlihat akan jatuh'.... yang terlontar adalah..... "wuih... ", "gaul", "keren" atau yang kurang beruntung mungkin akan dibilang 'alay' (jadi intinya tergantung muka mungkin ya pantes nggak pantesnya)
Coba sekarang sedikit menengok,
ke pedagang berjualan dengan menggunakan baju yang ala kadarnya tapi dengan senyuman yang paling ramah, nenek-nenek yang memakai sarung dan kebaya lusuh dengan rambut yang ditutupi kain, pemuda2 yang kulitnya hitam terbakar matahari duduk disamping warung rokok dengan menggunakan bahasa daerah menggoda si eneng yang cantik, dosen yang selalu memakai kemeja batik, temen lo yang sering memakai baju bali, pemerintah dengan kopia tapi bawahannya jas rapih seperti obama, apa yang terlontar? jawabannya "......" nggak ada komentar... paling nggak maksimal ya.. "biasa saja."

lalu coba lihat ketika anda menyaksikan sinetron,
wajah yang cantik dan tampan (separuh bule is a must), yang ternyata umurnya lebih muda daripada penampilannya, orang-orang seperti mereka pasti selalu akan mendapat peran paling penting.. tentu saja, kalo tidak menarik dari penampilan ya orang rumah mana sih yang tertarik mau tonton.
bumbunya adalah, peran lugu dan konyol ditempati oleh yang medok... yang 'indonesia' banget deh istilahnya... 'lugu' dan 'kampungan'.... apa itu identitas negeri ini sebenarnya?

Ketika pemilu, semua antek-antek penuh warna turun di jalan raya. 'hidup ini hidup itu' berteriak lantang sekedar ikut-ikutan atau hanya sekedar untuk uang rokok. di jalan raya, poster-poster di kumandangkan dengan berbagai slogan sampai-sampai membawa entertainer yang selalu bermain sebakai tokoh yang baik.... tidak lupa juga selalu memakai nama Tuhan untuk meyakinkan yang mayoritas...  DAAAAN jangan pernah lupa juga, sumbangan-sumbangan datang ke mana saja dari para calon kandidat yang ceritanya tidak sengaja disorot oleh kamera....
kesimpulannya : apakah segitu 'lugu'nya kita untuk memilih?
(hati-hati untuk pengguna jalan raya ketika melihat tulisan visi misi dibawahnya yang padahal sudah menyalahi peraturan untuk sebuah yang mungkin poster atau mungkin billboard itu. apa mereka tau untuk membacanya saja butuh waktu mungkin hampir 5 menit, jadi hati-hati fokus saja lihat ke jalan atau anda mungkin bisa saja celaka)


Coba kembali ke realita sejarah Indonesia. petinggi gendut atau sultan duduk berdampingan dengan Mr. and Ms. dimana terlihat di kanan kiri mereka ada beberapa rakyat lugu yang mungkin bisa dibilang selir atau mungkin hanya dikenal sebagai 'pembantu'. petinggi duduk dengan memakai kain khas indonesia tapi kadang juga me-mix & match local content dengan pakaian belanda.

"Apakah nanti kelas sejarah untuk negeri ini akan diulang di semester depan?"
"Siapa yang jadi pelopor untuk memegang bambu?"
BELAJARLAH DARI SEJARAH ATAU KITA YANG AKAN MENJADI SEJARAH.


p.s : tulisan ini dikembangkan setelah membaca komik opini dari om Aji Prasetyo. terima kasih untuk orang-orang yang tidak santai untuk membaca ini :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar