wise abeeees

Ketika saya menulis ini, saya masih tidak mengerti mengapa tiba-tiba menulis ini di blog. saya hanya ingin mengeluarkan keluh kesah mengenai hal yang mungkin tidak layak untuk orang lain baca. ya Allah, saya memiliki definisi bahwa dosa merupakan sesuatu hal yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. seperti membunuh, mencuri, minum alkohol (rugi untuk kesehatan), dll. Tapi sex? jika sex dilakukan atas dasar kesadaran dan komitmen atau cinta apakah itu berdosa? saya tidak berbicara soal free-sex, itu jelas berbahaya karena dapat merugikan harga diri dan kesehatan, sehingga saya dapat berkata, ya itu dosa. having sex bukan berarti kita harus menjadi seperti ayam. if you're having sex with someone it means you already made a commitment. tapi, kenyataannya... yang udah terikat secara 'officially' berkomitmen saja bisa melanggar, gimana yang pacaran. oke, anggap lah tulisan ini intro.

Jadi,
saya dihadapkan dengan situasi, ketika seorang gay berbicara kepada saya mengenai pernikahannya dengan perempuan yang statusnya rela melakukan apa saja demi uang. dan teman saya menjanjikan kehidupan yang nyaman untuk perempuan ini bila memang si perempuan sudi untuk menikahinya yang gay which means yesss, comfort zone = lot moneys. but money can't buy happiness? true.
teman saya yang gay memandang bahwa pernikahan merupakan kewajiban. dan ia tau mo sampai kapanpun ia menunggu nikah sesama jenis itu legal, disaat itu terjadi pun dunia sedang me-runtuh jadi debu alyas kiamat.
yang ia tanyakan, "Wan, apakah gue akan bahagia?"
Dan disitu ia melanjutkan pertanyaannya (kurang lebih seperti ini), "Misalnya elo, elo tau lo gak bakal bisa sama cowok lo sekarang karena perbedaan prinsip bla bla bla.. yang padahal, itu nggak separah dengan konflik hati gue dengan yang sesama jenis. Tapi apa di umur lo yang menginjak 27 tahun mungkin misalnya, yang mana ada seseorang yang datang dengan penuh kepastian menawarkan diri untuk bersama dan berumah tangga, lo akan bisa meninggalkan orang yang sudah membahagiakan lo dan mengajarkan lo banyak hal? Ketika lo merasa bisa tp belom ikhlas, apa disaat itu juga lo yakin akan merasa tetap bahagia?"

yang saya jawab adalah. nggak tau.
mungkin teman saya mencoba memaparkan pandangannya mengenai pernikahan yang dimaknai olehnya bukan sebagai ikatan cinta melainkan sebuah tuntutan dalam proses kehidupan. pada kasus teman saya, yang akan menjadi 'korban' dalam komitmen palsu (nanti) itu adalah anak. teman saya berkata, ia mau berkeluarga karena ia ingin memiliki anak. tapi toh, orangtua punya tanggung jawab yang besar untuk menjadikan jati diri anak itu nantinya. family is the real you. bila fondasi saja sudah rapuh bagaimana bisa menyusun rumah yang kokoh ketika badai datang? kita tau semakin kesini lingkungan pergaulan itu seperti apa dan bagaimana kan. dan pembentukan moral dan karakter anak itu dimulai dari pendidikan dari orangtua dan kemudian lingkungannya (baik itu dari sekolah maupun pergaulan).

"Tuhan pasti lebih sayang kok sama kita, lebih dari siapapun bahkan orang tua lo sendiri. lo harus percaya apa yang dateng dan pergi itu punya satu tujuan ke tempat yang paling bahagia."

"Jadi jawabannya nda?"

"Gue nggak tau. bahagia dan masalah itu sama-sama dateng tiba-tiba, yang tanpa disadari kita semua yang menanam itu semua untuk menjadi apa. yah gimana ya.. gue nggak pernah berumah tangga sih, jadi nggak bisa kebayang kalo pake 'komitmen' yang elo maksud itu begemana jadinya. yang jelas, ada yang mesti lo pikirin selain kebahagiaan diri lo sendiri."

"Apa?"

"Kebahagiaan orang lain. orang2 sekitar lo mungkin dan seperti anak lo nanti. ada orangtua yang membahagiakan anaknya dengan materi, tapi apa anaknya itu sebahagia yang diinginkan orangtuanya? kita nggak tau. life is full of mystery. sometimes, the expectation can't be so real in reality."

"Jadi gw harus apa?"

"Setiap manusia pasti selalu ketemu ama yang namanya pengorbanan loh, biar kerasa hidup banget gitu. jadi jangan takut untuk mengambil keputusan, it's your own choice. yang penting pikirin aja apa yang lo tanem, itu yang bakal elo petik, elo yang rasa, dan seperti apa manfaatnya."

"OMG, but i love himmmmm!!!!! Gue nggak bisa ninggalin dia!"

"Kalo dia yang ninggalin lo? Kalo lo suatu saat nanti udah siap ninggalin dia? satu lagi, segala kemungkinan itu ada. ada yang bisa dikira dan enggak."

"Au ah. jalani saja."

(dikutip dari yahoo messenger ku dengan teman yang galau galau tai kucing hffffff -___-)

p.s : SEBEL. tau gitu ujung2nya jalanin aja ngapain mesti curhat panjang lebar. dan kutipan2 diatas belum termasuk separoh dr chattingan super lebay nyebelin

Komentar