Kamis, 20 Februari 2014

No offense

No offense. Kali ini saya mau membicarakan sesuatu yang memang agak nggak nyaman dan seharusnya nggak perlu di omongin.

agama.


semuanya dimulai dari cowok saya yang lagi hits banget sebelnya sama agama. semuanya bermula karena kami nggak punya 'ujung' hubungan kita harus dibawa kemana, ya karena apes aja kami tidak tinggal di negara barat. Tapi ya gimana dong saya merasa lama lama cowok saya mulai lebay dalam menanggapi segala hal. masalahnya panjang lebar banget bos, oke sih saya pribadi emang dasarnya pendengar yang baik ya jadi ya hwek ya udah didengerin aja. Karena saya emang comel dan sering ngetweet bla bla bla, tapi saya bukan tipikal orang yang suka memperdebatkan sesuatu. Tapi ya mungkin waktu itu karena saya udah males cuman dengerin dan ketawa2 aja, tiba tiba saya nyeletuk nanya "lu percaya nggak sama mukzizat?" Dan dia bilang "mukzizat dalam apa dulu lu mesti spesifik bla bla bla..." Terus saya beri contoh, ya kayak orang bisa selamat dari kecelakaan maut. "Oh kalo itu pasti ada penjelasannya. Gue percaya sama sebuah prinsib sebab dan akibat.. ya dia bisa selamat pasti karena dia berada dalam posisi yang menguntungkannya and the bla bla" dan gue bilang "oke stop sampai disitu. Berarti lu atheis and it's ok kok for me. just don't doubt my belief" terus panjaaaaaaaaaaaang banget semua semua rata2 isinua perumpamaan. ya semua logis sih emang tapi ya gimana sih kan annoying bet cobg. Ampe saya taru henpon saya di meja sambil nonton tv. udah tu dia ngomong terus au dah ngomong apa.


Huffness sih lama lama. Saya udah sering bilang sama dia, "sa, cara lu ngomong ke gue.. intonasi lu dan segala macem tu kayak lagi ngajak debat gue."

Gue ngerti dia tuh nggak tau mo muntahin kemana.. karena dia nggak punya blog. terus jarang ngetweet. nyokapnya kristen banget. ya gue deh jadi yang kena tempay keluh kesah (dan desah) (WEWWW NGOMONGNYE) Tapi lama lama ya jadi risih.dicuekin tapi berisik ngoceh nggak kelar2. Ditanggepin sedikit makin menjadi. Yaudah gue diem aja.


Semakin kesini dan berkembangnya usia dan lingkungan. persepsi saya dalam melihat between life and death ya memang agak berubah.

Dulu saya mengejar banget sama yang namanya surga. Yaiyalah siapa yang ga mau masuk surga. tapi, saya melihat fakta fakta yang ada.. semua orang mengejar surga sampai jadi egois banget. Berzakat karna merasa harus-berkata ikhlas tapi embel2nya semoga ini bisa jadi pahala which is ya buat ngejer surga. Ampe ibaratnya bersedia 'membunuh' untuk menebus surga. Tapi nyadar nggak sih Keimanan seperti sholat atau sering ke gereja, nggak selalu merubah akhlak seorang manusia.


Kenapa. seorang yang haji berkali kali dan sering menunaikan solat puasa dan zakat bisa jadi koruptor? Seseorang yang tampak sederhana tidak berbalut 'sergam' dan tidak pernah membawa 'akidah' bisa jadi pemimpin yg sigap dan sangat peduli sama rakyatnya?

Benar sih waktu itu yang saya pernah baca. orang orang lebih mengambil hikmah agama dari segi akidah. sedang akhlak di nomer dua kan. dan di setiap dakwah tuh selalu ditekankan "masuk surga" bla bla bla "'masuk surga" bla bla bla "masuk neraka"


Saya pribadi sangat merindukan sosok yang diceritakan oleh al Qur'an yaitu nabi muhammad saw. Saya sadar secara logika dan nalar sosok2  'the messenger' seperti beliau itu bisa antara ada atau legenda. Bahkan kita tidak tahu apakah kitab suci itu benar turun dari langit atau hanya berupa buku sejarah biasa.

Terlepas dari itu semua. saya percaya sosok pemimpin yang luar biasa itu pernah ada dan sesungguhnya membawa perubahan yang baik.


Balik lagi to the point. Agama. ya emang bisa bikin orang nyebelin karena masing2 punya persepsi yg berbedabeda. Ada yg tujuannya (mostly) yg penting gw masuk surga ada yg kayak yaudah jalanin aja yg penting gue hidup ga jadi orang jahat terus ada yg woyyy ga rasional yakin lo surga neraka dan tuhan tuh ada.


gue pribadi beragama islam. Ya buat saya ya udah, dijalanin aja. Tapi kalo ditanya persepsi gue memandang apa itu agama menurut saya agama hanya sebuah label. label untuk memanjatkan diri ke Tuhan, label yang membatasi kita untuk melakukan sesuatu yang merugikan, label yang buat kita takut akan karma, dan label yang rata-rata orang lebih senang memaknainya yaitu sebuah label yang akan membawa kita ke life after death..antara surga atau neraka. Balik lagi deh ke paragraf2 atas.


Pada dasarnya semua orang bisa nyiptain agama sih ya.  Lah agama kan kepercayaan. Bebas dong orang mo megang kepercayaan apa. Bebas dong orang mau menjalin hubungan dengan Tuhan seperti apa. Nah tapi dengan underline, ketika orang sudah memaksakan kepercayaannya kepada orang lain agar percaya....ya berarti orang itu membranding agama bak partai politik.


Intinya soal agama, semuanya bisa berdamai kalo udah shut up ga ada yang perdebatin like mind your own business aja!!!! Oh ya dan yang pasti segala hal yang berlebihan tuh nggak baik. Pengen deh ngomong ke cowok saya "sah gue baru tau orang atheis itu bisa jadi fanatik." Nunjuk mukanya.

Tapi males. pasti mantul. adanya gue yang budek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar